DI KEJAR-KEJAR KESEDIHAN Catatan: Mukhlas
Satu jam sudah berlalu, akan tetapi rasa ini masih belum lepas dari cengkraman kesedihan. Mengingatkanku dengan semua masalah besar yang membelenggu. Setiap aku ingin melupakan slalu pula datang menghantui. Aku coba langkahkan kaki ini tuk mencari suasana lain dengan harapan semua jadi lebih baik. Ku melangkah pergi ke tempat itu. Disana banyak teman2ku lagi ngumpul bersama. Mereka tertawa tertawa bersama memancarkan sinar kebahagiaan dari wajah mereka. Ada sahabatku disana. Alhamdulillah ………! Aku serukan pada allah. Pertamnya aku memang merasa gugup dan sempat khawatir karena aku datang dengan kesedihan yang nantinya akan membua t mereka iba atau prihatin atas seorang aku yang sedang sedih ini. Ternyata perasaanku salah besar. Dengan kebersamaan, canda, tawa, gurau mereka telah menyulapku senang , lebih tenang dan bahagia. Hebat……!kepercayaan diriku kembali lagi ketika aku berada di tengah2 kebersamaan bersama teman2ku. Aku tak menyangka sahabat baikku terus memperhatikanku. Mungkin dia menyadari bahwa aku sedang sedih dengan semua masalah menimpa. Tapi aku berusaha menunjukkan bahagiaku karena aku tidak ingin masalahku di pikul orang lain apalagi makin rumit dan makin panjang tak menemui ujung selesainya. Dia sangat dekat dengan aku dia mengerti aku dia tahu semua tentangku begitu juga aku, aku berpikir dia mengetahui keadaanku yang sedang sangat sedih dalam kesedihan. Sahabatku, dia tampak ingin menghiburku sekarang walaupun secara tidak langsung dan terang2an.
Langit kelihatannya mau memalam, waktu tak mengizinkan kebahagiaanku berlanjut. Satu persatu teman2ku keluar hingga tinggal aku dan sahabat baikku. Dia ingin bertanya sesuatu tapi dia urungkan niatnya mungkin karena waktunya belum tepat untuk berbicara masalah itu. Akhirnya akupun keluar berjalan keluar pamit kepadanya. Langkah demi langkah aku melangkah tuk meninggalkan sahabatku untuk kembali ke kamar.
Satu jam aku telah meninggalkan teman2ku. Ku lihat detik jam terus berjalan. Setelah satu jam Rasa itu Rasa itu Rasa sedih itu kembali mengusik ketenanganku. Sepintas dalam pikiranku rasa bahagia itu hanya berkapasitas kurang lebih satu jam setelah itu………! Hilang . berganti lagi dengan sedih. Di dalam mushallahpun aku masih tak kuasa menahan sedihku, tak terasa tetesan air mata mengucur deras dari mataku. Aku menyendiri dari teman2ku yang lain takut ketahuan aku lagi sedang sedih, menangis cengeng seperti ini. Aku pusing terus mikirinnya sampai2 badanku terasa panas lagi, kepalaku terasa berat. Mungkin masalah ini aku tak sanggup lagi menghadapinya. Aku ingin sakit aku ingin pulang aku ingin berhenti saja mondok. Menetes lagi air mataku, ku coba mengusapnya ku coba bangkit dari merasa iba terhadapku.aku minta satu al qur’an. Aku baca al qur’an itu dengan seksama tak lama kemudian aku semkin mengingat masalah itu. Aku ingat orang tuaku aku ingat allah. Tertetes lagi air mata itu “AKU TAK BISA DAN AKU TAKKAN BISA”. Aku letakkan al qur’an itu ke tempatnya. Aku nyungkem ke bawah ku lanjutka tangisku lagi. Aku menangis, tak percaya ku menangis lagi. Aku tak ingin menangis lagi tapi mengapa air mataku tetap mengalir deras dengan seenaknya. Ku pejamkan mata. Ku takut melihat ku tak bisa menerima cobaan hidup ini. Aku takut tenggelam dalam lautan kesedihan yang terus membntutiku kemana2. Aku telah lelah di kejar2 masalah..
KRING KRING KRING !!!!!!! Bunyi bel sekolah diniyah telah berbunyi. Rasanya berat meninggalkan mushalla aku takut bertemu siapapun. Tapi mau bagaimana lagi aku harus berangkat sekolah. Dengan cepat aku berlari menuju kamarku mengambil mengambil buku pelajaran tanpa basa-basi tanpa menghiraukan teman2ku yang menyapa langsung aku menuju kelas. Aku duduk sendirian masih belum ad siapa2. Ku tatap kelas yang sepi, kursi, meja, dan papan tulis. Tiba-tiba kata2 yang menyakitkan itu muncul dalam benakku, mengikuti sampai kedalam kelas. Aku merundukkan kepalaku manenangkan pikiran yang sedang menggeliat dalam otakku. Tapi semuanya nonsen itu semua hanya membuatku sedih dan terus menangis lagi, aku berfikir “apakah aku yang salah apakah dia yang salah ?”. Apakah aku salah berada disini kalau memang aku tidak ingin menerima masalah ini ? Apakah aku harus menyalahkan orang tuaku yang memaksaku untuk terus berada di tempat suci ini ? Tapi ini menyakitkan bagiku. Inilah yang membuatku rela meneteskan air mata yang berharga ini ? Apakah mereka tega melihatku seperti ini, slalu sedih, slalu menangis sampai akhirnya aku jatuh sakit hanya gara2 itu ? Apakah mereka tega ? Apakah mereka tak pernah berfikir kalau aku akan sedih masalah yang harus ku pikul sendirian ini ? apakah mereka bisa tahu bahwa keadaanku sedang sedih sekarang ?. tak tak tak tampak seorang masuk dari balik pintu dia adalah teman sebangkuku sekaligus guruku di EAL namanya Mr. faiz.
PP. Annuqayah, Latee, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar